It’s INDRA’s !!! (^_^)






         

September 7, 2005

Dongeng Negeri Ayam

Filed under: Uncategorized — indra77 @ 10:30 pm

Ceritanye begene neh…..

Ada sebuah negeri somewhere out there, yang bernama Negeri Ayam.
Yup, Negeri Ayam, karena emang semua penghuni/warga negaranya adalah ayam-ayam. :-)

Negeri Ayam ga gede-gede amat kok, tapi jangan salah, waktu diproklamasikan duluuuu, warganya kompak serempak semerbak sekalee, jadi biar kecil tapi jagoan nih negeri !

Cuman karena perkembangan jaman, Negeri Ayam turut memasuki era globalisasi yang menimbulkan pergeseran budaya dan fenomena sosial yang cukup fundamental dalam tatanan hidup berbangsa & bernegaranya (yaikss…..dongeng kok bahasanya susyah bianget gene seh ?!!?! heheheh…..)

Ok, back to Negeri Ayam…..
Pada perkembangannya, warga negara Negeri Ayam secara garis besar bisa dibagi jadi 3 kelompok besar, yaitu :
1. Ayam Lokal, biasa disebut Ayam Kampung (warga negara asli yang lahir, besar, sekolah, kerja, sampe matinya tetep ngejogrok aja di Negeri Ayam, ga ke mane-mane)
2. Ayam Ras, biasa disebut Ayam Broiler/Ayam Horn (kalo di dunia kita, mereka yang kita sebut sebagai ekspatriat, orang-orang di dunia kita lebih suka nyebut mereka “orang bule” padahal ga semua ekspatriat bule kan ya ? heheheh….. so, Ayam Ras ini emang ga lahir & ga besar di Negeri Ayam, tapi bisa aja mereka kerja sampe matinya di Negeri Ayam. Malah ada yang jadi warga negara Negeri Ayam karena mereka “jatuh cinta” pada Negeri Ayam)
3. Ayam Lokal yang berusaha jadi Ayam Ras, biasa disebut Ayam Interlokal :-) (ini yang rada unik, aslinya mereka Ayam Kampung tulen, tapi karena perkembangan jaman & kemampuan mereka, mereka sempet melanglang buana ke negara-negara asal Ayam Ras. Nah, repotnya setelah kembali ke Negeri Ayam, mereka jadi “durhaka”. Mereka ga mau disebut/ngakuin kalo mereka itu Ayam Kampung, mereka jijik dengan Ayam Kampung, mereka hidup dengan gaya Ayam Ras. Makanya mereka disebut Ayam Interlokal, karena secara fisik mereka Ayam Kampung asli tulen orisinil dan idup di Negeri Ayam, tapi jiwa & pikirannya nun jauh entah di mana)

Hhmmm…..dengan komposisi seperti itu, bisa ditebak banyak hal menarik yang bisa & bakal terus terjadi, tul ga ?? ;-p

Seperti sudah sempet disinggung, di awal proklamasi kemerdekaannya, warga negara Negeri Ayam bener-bener kompak serempak semerbak sekaleee…..jadi ada krisis segede-gede gajah bengkak juga rasanya enteng aja nyelesaiinnya. Bukan brarti mreka jadi seragam dan mengingkari keberagaman yang ada. Tapi keberagaman itu ga mereka pake buat alesan mengkotak-kotakan diri mereka sendiri.

Karena pada akirnya terbentuk 3 kelompok warga negara, wah…jadi beda deh caranya ngadepin krisis. Bahkan untuk ngadepin krisis yang “cuma” segede tikus got aja rasanya puannnjjaaaannggggg dan luammaaaaaaaaa kelarnya.

Padahal keadaan Negeri Ayam sebenere sudah juauh lebih makmur, lebih maju, lebih modern daripada waktu proklamasi kemerdekaan mereka. Tapi ya getu deh, inget aja Indonesia taon 90an, pembangunan rasanya luar biasa dahsyatnya, malah koar-koar bakal tinggal landas, ga mau jadi negara berkembang tapi bakal jadi negara maju. Lah wong smuanya itu cuma di muka doank, jeroannya penuh kanker, tumor, bakteri, virus dll dsb dst, tau sendiri deh hasilnya kayak apa Indonesia sekarang.
Sayangnya keadaan Negeri Ayam ampir mirip-mirip getu deh, pembangunan fisik kliatan berkembang sangat pesat, mereka sukses membangun istana megah yang udah mereka idam-idamkan sekian ratus taon lamanya, tingkat pendidikan warganya meningkat jauh, kesejahteraan jadi lebih baik, dll dsb dst…..

Salah satu tanda-tanda yang menakutkan, kalo di awal proklamasi kemerdekaan SEMUA warga negara Negeri Ayam selalu meneriakkan semboyan negara mereka dengan suara yang merdu dan harmonis serta keluar dari dasar tembolok mereka yang paling dalem, “We Are One Big Happy Chicken Family !!!”, nah yang terjadi pasca globalisasi adalah tiap kelompok meneriakkan semboyan negara itu sendiri-sendiri, ga lagi kompak serempak semerbak…..malahan ada beberapa “oknum” yang mulai ga neriakin semboyan negaranya.

Kenapa ya bisa getu ?
Nah ini dia yang bikin Raja Negeri Ayam (dan sebagian warganya) pusing mumet tujuh puluh kali tujuh kali keliling !
Rupanya di Negeri Ayam yang terkenal kompak serempak semerbak, damai sejahtera, dengan semboyan, “We Are One Big Happy Chicken Family !”, sedang terjadi perang !!!

Apaa ??!! Perang ?
Yah….bukan perang sungguhan yang pake bedil-bedilan, tapi perang yang justru lebih dahsyat daya hancurnya, karena pemulihan pasca perangnya bisa dibilang sebuah “Mission Impossible” !
Negeri Ayam sedang dilanda Perang Dingin !!!

Jadi kalo ada pesta rakyat, kliatannya aja smua pada senyam senyum, berhai-hai satu sama laen, ketawa ketiwi, dll dsb dst……tapi rupanya smua itu palsu banget nget nget.
Karena sebenere ada kebekuan yang melanda di hati & jiwa para ayam, trutama di kelompok Ayam Kampung dan Ayam Interlokal.

Ruwet, kusut, mbulet……
Ayam Kampung ngrasa Ayam Interlokal sebagai pengkhianat durhaka. Wong sebenere mereka itu ya Ayam Kampung juga, tapi gayanya seolah-olah mereka sudah menjadi Ayam Ras (mana mungkin Ayam Kampung bisa jadi Ayam Ras, mimpi kali yeee…?!!). Malah secara terang-terangan Ayam-Ayam Interlokal ini melecehkan apa-apa yang menjadi kodrat Ayam Kampung, yang notabene sebenernya kodrat Ayam Interlokal juga. Dengan beralasan pernah ke negara-negaranya Ayam Ras, Ayam Interlokal mendadak kena amnesia budaya & bahasa. Padahal sebagian besar umur hidup Ayam Interlokal ya dihabiskan di Negeri Ayam dengan segala budaya & bahasa aslinya, mereka cuma sementara/sebentar aja di negara Ayam Ras, tapi Ayam Interlokal merasa mereka bakal jadi ayam primitif yang bar-bar & biadab kalo berbahasa & berbudaya aslinya saat mereka kembali ke tanah airnya, Negeri Ayam.
Kalo mo dibuat persentasenya, dari sepanjang umur idup mereka, para Ayam Interlokal ini paling banter cuma ngabisin 10% dari umur mereka di negara-negara Ayam ras, selebihnya yang 90% (yes, SEMBILAN PULUH PERSEN !!) dari idup mereka ya diabisin di tanah air nusa bangsa ibu pertiwi mereka sendiri, Negeri Ayam.
(Padahal Ayam Ras yang ada di Negeri Ayam justru mati-matian belajar bahasa & budaya Negeri Ayam, malah sampe ada yang minta-minta untuk jadi warga negara Negeri Ayam dan dianggap sebagai Ayam Kampung, bukan Ayam Ras, ironis ya ???)

Sebaliknya Ayam Interlokal merasa Ayam Kampung terlalu kuno, kuper, goblok, susah diatur, dan diajak maju di tengah perkembangan jaman yang begitu cepat. Dengan modal pengalamannya melanglang buana ke negara para Ayam Ras, Ayam Interlokal berusaha mengubah dirinya (yang Ayam Kampung) dan para Ayam Kampung lainnya menjadi Ayam Ras yang mereka nilai lebih maju, cerdas, beradab, dan modern. Mereka berkeyakinan, bagaimana pun bedanya sikon negara Ayam Ras dan tanah air mereka, Negeri Ayam, dengan perjuangan keras pasti Ayam Kampung bisa dirubah menjadi Ayam Ras dan Negeri Ayam bisa menjadi seperti negara para Ayam Ras.
Jadi mulailah Ayam Interlokal memulai “Mission Impossible”nya yang mengacau ketentraman Negeri Ayam, mereka mulai berbahasa seperti Ayam Ras, bertingkah laku seperti Ayam Ras, makan makanan Ayam Ras, dan secara sadar atau sengaja (weleh….apa bedanya ya…!??!!) melecehkan dan merendahkan asal usul mereka dan para Ayam Kampung yang masih hidup di dalamnya.

Sang Raja Negeri Ayam binun, pusying……
Ga cuma kehangatan Negeri Ayam mulai terasa membeku, tapi lebih dari itu mulai menurunkan kualitas hidup para ayam itu sendiri.
Bagaimana tidak, para Ayam Kampung karena amarahnya pada Ayam Interlokal mulai melakukan hal-hal yang merugikan diri mereka sendiri, sakit ati, kepahitan, luka batin, sampe akirnya fisik mereka jadi ga tahan, sering sakit-sakitan, dan produktivitas mereka jadi drop buanget.
Ayam Interlokal yang mulai bertingkah seperti Ayam Ras juga tidak lebih baik. Ya jelas aja, wong aslinya Ayam Kampung tapi maksa makan makanan pabrikan yang biasa dikonsumsi Ayam Ras, mereka ga mau lagi bekerja keras berpanas-panas ke sana kemari lagi mencari makanan, mereka mengikuti Ayam Ras yang lebih sering di ruang tertutup dengan makanan & minuman yang sudah tersedia, jadinya kualitas daging & telur mereka menurun drastis, mereka ga fit lagi seperti Ayam Kampung yang normal.
Ayam Ras yang kepengen jadi Ayam Kampung ya kurang lebih ampir sama juga kacaunya jadinya deh.

Bagaimana keadaan Negeri Ayam selanjutnya ???

*** to be continued with more update story from Negeri Ayam***

Shallom,
(c)YIK080905



6 Comments »

  1. Wakakkaaka! Nice way of putting “those” in words yah. Good job deh.

      seal — September 8, 2005 @ 6:27 am

  2. Wooops! Jangan2 daku sudah termasuk ayam interlokal yah? Bahasanya atuh! Ralat deh : Cara yang indah untuk menceritakan “itu” secara tertulis yah. Kerja yang bagus deh. Huahahahahahaaa!!

      seal — September 8, 2005 @ 6:28 am

  3. Buset Dra… panjang aje nih cerita.. tapi seru kok :)

      Darrick — September 8, 2005 @ 8:42 am

  4. Waduh…. Ternyata ada bakat terpendam di balik Pribadi Bapak satu ini…. Keep The Good Posting MAN !!

      Hartono — September 8, 2005 @ 9:36 am

  5. Heheheh….tengkiu feri mach buat komen2nya.
    “Dongeng Negeri Ayam” sebenernya diilhami dari program “I Care” kok, so do you care…??? :-)

      Indra — September 8, 2005 @ 7:47 pm

  6. Hahaha, tertohok deh aku.

      Evelyn — October 9, 2005 @ 10:52 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment